BATUBARA MEMBAWA NIKMAT…?
7, Oktober 2008
Beberapa tahun terakhir ini, beberapa perusahaan banyak yang berdatangan untuk berinvestasi di Kabupaten Barito Timur, khususnya di kecamatan Dusun Tengah- Ampah, dan kecamatan Raren Batuah. Yang saya tahu ada THAILINDO, Multi Tambangjaya Utama, Batubara Bandung Pratama, Pinang Coal, Jatus, JIP dan mungkin masih banyak lagi.
Secara sepintas para investor tersebut mambawa uang yang banyak untuk memiliki lahan batubara dengan membeli tanah kepada para penduduk yang lahannya kena jalur batubara. Para pendudukpun lantas mengapling tanah-tanah di hutan belantara. Yang memiliki kapling banyak lantas jadi jutawan bahkan milyader mendadak. Bayangkan saja ada seorang warga yang memiliki tanah hingga 400 kapling dengan luas satu kapling sekitar 2 ha. kemudian investor bersedia membeli tanah satu hektar 20–75 juta. Banyak ya.. duitnya.
Tidak sedikit yang menawarkan kepada saya untuk memiliki kapling tanah di hutan, dengan cukup mengganti ongkos tebas sekitar 1 -5 juta. Sementara sebagai guru, saya sering memberitahukan kepada para siswa untuk:
-ikut melestarikan alam,
-jangan gegabah untuk menjual tanah,
-jangan menjadi tuan tanah karena hak warga untuk memiliki tanah hanya 2 hektar,
-jangan merusak hutan,
-hutan kita adalah paru-paru dunia, lihat kalimantan selatan sekarang sering dilanda banjir karena hutan habis dibabat tanpa reklamasi. Apakah kita akan menjadi bagian yang merusak hutan?
Saya tentu sangat bimbang ketika sebagian teman-teman pada memiliki kapling, anak saya juga bertanya, : “mengapa gak ikut beli kapling?” tahun depan kita bisa beli mobil atau bisa naik haji atau bisa beramal ke panti asuhan atau bisa membangun masjid. Saya hanya diam karena tak bisa memberi jawaban karena antara hati nurani dengan keadaan sangatlah bertentangan. Disisi lain pingin kaya, pingin banyak uang, pingin naik haji. Namun disisi lain nunjauh di relung hati berkata “Haruskah kita beribadah dengan cara ikut merusak hutan? haruskah kita sekarang bisa naik haji lantas anak cucu kita nanti tinggal dipengungsian karena banjir?”. BENARKAH BATUBARA MEMBAWA NIKMAT?
Entry Filed under: relung. Tag: banjir, BATUBARA, batubara bandung, illegal logging, kelestarian hutan, multi tambangjaya utama, perusakan hutan, pinang coal, thailindo.
8 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
jiji | 16, November 2008 at 8:19 am
mungkin pendapat anda itu benar, namun apa yang anda bisa lakukan untuk ikut melestarikan hutan… apakah dengan tidak ikut mengapling tanah di hutan… kegiatan tambang berhenti..? kan tidak to.., yang pasti apapun sikap anda, kegiatan tambang tetap berjalan…., selama para pemikir negara dan rakyatnya menginjinkan investor mengerjakannya.
2.
budi | 16, November 2008 at 2:21 pm
betul juga ya…ah ikutan beli tanah sajalah.. anak cucu urusan nanti
3.
dwi | 25, November 2008 at 8:11 am
kalau anda mau beli kapling boleh ikutan Pak ya… ntar klo pas ke tamianglayang saya tak mampir Pak…. salam kenal. Bapak tetep harus jadi teladan buat murid2 bapak.
4.
Ahmad Azhar | 5, Februari 2009 at 12:42 pm
Kalau ada kesempatan untuk beli kapling, beli aja dan masalah ikut menjaga kelestarian hutan sudah tanggung jawab dinas pertambangan. Dan untuk menambah usaha sampingan kami ada bisnis jadi agen pulsa elektrik, dengan modal cuma Rp. 200.000,- untuk semua operator. jelasnya buka http://www.duta4future.com Used ID : DBS415791, Pasword : SUKSES, informasi hub. HP. 0852 5176 0128
5.
di2kariadi | 8, Februari 2009 at 8:15 am
hohohohoho……………… menarik juga ya bu…. betul sekali bu… tiba2 banyak warga yang datang ke TANJUNG, dengan selembar cek… pencairan ganti Rugi lahan… (bukannya ganti Untung…)ini cerita sebenarnya bu… kakak saya kebetulan tinggal di desa… di daerah Malintut… di daerah Dusun Tengah… sekitar 45 menit dari ampah…dia gak punya lahan… tapi sering bantu perangkat desa membuatkan SKT… katanya lumayan… apalagi harga karet saat ini anjlok… kadang saya juga berpikir… saat ini begitu nayak Tanah masyarakat yang di jual… 10-15 tahun kedepan… akan lebih banyak masyarakat diwilayah Dusun tengah yang kehilangan lahan… dan perlahan akan menjadi pekerja perusahaan… akan banyak juga nantinya sosial kultur masyakarat yang akan bergeser… saya pernah bertanya dengan tokoh masyarakat di Ampah… dulunya tanah Ampah (sekitar pasar Ampah) milik orang2 dayak lawangan dan maanyan, serta Dusun… setelah sekian lama, bergeser kepemilikannya ke orang2 banjar/hulu sungai karena dijadikan pusat perdagangan di sekitar kec. Dusun tengah… nah nantinya di daerah2 akan lebih dikuasai oleh Perusahaan… tidak hanya hutan yang akan di korbankan… sosial budaya, pertanian, dan saya pikir aspek kehidupan yang lainnya pun nanti akan beralih secara perlahan…. Bukan berarti saya juga antipati dengan pertambangan… namun saya pikir…wilayah DUSUN TENGAH dan BARTIM umumnya… lebih mempunyai potensi perkebunan dan pertanian…akan lebih menyentuh semua lapisan masyarakat ketimbang pertambangan… bagai BOM waktu yang timernya dipasang sangat lama sekali untuk akhirnya meledak…
6.
budisan68 | 20, Februari 2009 at 6:03 am
daftar saja di sini rame-rame
$6.00 Welcome Survey After Free Registration!
7.
IRENG | 2, Maret 2009 at 2:42 am
ayo rame2 kita sikat hutan…
8.
Jhoess | 31, Maret 2009 at 7:28 am
Secara perorangan kegiatan pertambangan tdk bisa dihentikan, karena semuany atas izin yg berwenang. Hutan memang sangat penting, tp secara nyata uang adalah sangat penting. Kab. Kita td mungkin hidup tanpa pendapatan jg, jd mau apa lg kita…