Seni Mendengar

26, Maret 2011 at 3:58 pm 1 komentar

Banyak orang bisa ‘berkata’, namun

sedikit yang mau ‘mendengar’.

Padahal jika kita mau kembali ke hukum

alam, seharusnya kita harus lebih

banyak mendengar daripada bicara.

Bukankah Tuhan memberi kita dua

telinga dan hanya satu mulut?🙂

Begitupun jika kita saksikan pada bayi

yang baru lahir. Indra pendengaran

lebih dulu berfungsi daripada yang

lainnya. Lalu, mengapa mendengar lebih

susah daripada berbicara?

Meski secara kasat mata mendengar

adalah hal yang gampang, namun nyatanya

banyak orang yang lebih suka

didengarkan daripada mendengarkan.

Mendengarkan merupakan bagian esensi

yang menentukan komunikasi efektif.

Tanpa kemampuan mendengar yang bagus,

biasanya akan muncul banyak masalah.

Yang sering terjadi, kita merasa bahwa

kitalah yang paling benar. Kita tidak

tertarik untuk mendengarkan opini yang

berbeda dan hanya tergantung pada cara

kita.

Selalu merasa benar, paling kompeten,

dan tidak pernah melakukan kesalahan.

Duh… malaikat kali!🙂

Jika kita selalu merasa bahwa diri kita

benar, dan cara kitalah yang paling

tepat, itu berarti kita tidak pernah

mendengarkan.

Ide dan opini kita sangat sukar untuk

diubah jika fakta tidak mendukung

keyakinan kita. Bahkan kalau ada fakta

pun kita mungkin hanya akan sekedar

meliriknya saja.

Mungkin saat ini kita nyaman dengan

cara kita, tapi untuk jangka waktu yg

panjang, orang-orang akan menolak dan

membenci kita.

Jika kita mau mulai mendengarkan

orang lain, maka suatu saat kita akan

menyadari kesalahan kita. Jawaban

untuk mengatasi sifat ini adalah

mengasah skill mendengar aktif.

Mendengar tidak selalu dengan tutup

mulut, tapi juga melibatkan partisipasi

aktif kita. Mendengar yang baik bukan

berharap datangnya giliran berbicara.

Mendengar adalah komitmen untuk

memahami pembicaraan dan perasaan lawan

bicara kita. Ini juga sebagai bentuk

penghargaan bahwa apa yang orang lain

bicarakan adalah bermanfaat untuk kita.

Pada saat yang sama kita juga bisa

mengambil manfaat yang maksimal dari

pembicaraan tersebut.

Seni mendengar dapat membangun sebuah

relationship. Jika kita melakukannya

dengan baik, orang-orang akan tertarik

dengan kita dan interaksi kita akan

semakin harmonis.

Berikut teknik mudah yang dapat

dipraktekkan oleh Budi dengan sangat

wajar untuk menjadi seorang pendengar

yang baik :

1. Peliharalah kontak mata dengan baik.

Ini menunjukkan kepada lawan bicara

tentang keterbukaan dan kesungguhan

kita

2. Condongkan tubuh ke depan.

Ini menunjukkan ketertarikan kita

pada topik pembicaraan. Cara ini

juga akan mengingatkan kita untuk

memiliki sudat pandang yang lain,

yaitu tidak hanya fokus pada diri

kita.

3. Buat pertanyaan ketika ada hal yang

butuh klarifikasi atau ada informasi

baru yang perlu kita selidiki dari

lawan bicara kita.

4. Buat selingan pembicaraan yang

menarik. Hal ini bisa membuat

percakapan lebih hidup dan tidak

monoton.

5. Cuplik atau ulang beberapa kata

yang diucapkan oleh lawan bicara kita.

Ini menunjukkan bahwa kita memang

mendengarkan dengan baik hingga hapal

beberapa cuplikan kata.

6. Buatlah komitmen untuk memahami

apa yang ia katakan, meskipun kita tidak

suka atau marah. Dari sini kita akan

mengetahui nilai-nilai yang diterapkan

lawan bicara kita, yang mungkin berbeda

dengan nilai yang kita terapkan.

Dengan berusaha untuk memahami, bisa

jadi kita akan menemukan sudut pandang,

wawasan, persepsi atau kesadaran baru,

yang tidak terpikirkan oleh kita

sebelumnya.

Seorang pendengar yang baik sebenarnya

hampir sama menariknya dengan pembicara

yang baik. Jika kita selalu pada pola

yang benar untuk jangka waktu tertentu,

maka suatu saat kita akan merasakan

manfaatnya.

Prosesnya mungkin akan terasa lama dan

menjemukan, tapi lama-kelamaan akan

terasa berharganya upaya yang telah

kita lakukan. Kita akan merasa lebih

baik atas diri kita, hubungan kita,

teman-teman kita, anak-anak kita,

maupun pekerjaan.

Kesimpulan: Jadilah pendengar yang

baik, karena sifat ini bisa menjadi

kunci untuk mengembangkan pikiran

yang positif, dan merupakan salah satu

tangga Budi untuk mencapai kesuksesan!🙂

Minggu depan saya akan mengirimkan

artikel tentang “Tips Bagaimana

Menciptakan Perubahan”

Seni Mendengar Ditulis oleh: Anne Ahira untuk Budi,

Entry filed under: relung. Tags: , , .

Kuasai Kecerdasan Emosi Anda! Tutorial Word 2007

1 Komentar Add your own

  • 1. Tingginya tak diketahui | www.budies.info  |  29, Maret 2011 pukul 6:50 pm

    […] sekolah. “Bu, tinggi saya tidak diketahui, bilang buDokter”, sikembar bercerita kepada ibunya. “Karena meteran yang dibawa buDokter panjangnya cuman 150 cm, padahal kami kan 160 cm […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


kesehatan blog

Klik tertinggi

  • Tak ada

Laman

Sosial


%d blogger menyukai ini: